Posted by: Arief Hilman Arda | February 24, 2010

Re-Interpretasi Pentingnya Pembangunan Sektor Pertanian dalam Pembangunan Perekonomian Nasional

Re-Interpretasi Pentingnya Pembangunan Sektor Pertanian

dalam Pembangunan Perekonomian Nasional

Arief Hilman Arda

Saya masih ingat dalam buku teks pelajaran saya waktu di SD, SMP dan SMA selalu dinyatakan bahwa Indonesia adalah negara agraris dan pernah mendapat penghargan dari FAO atas keberhasilannya dalam swasembada beras. Sampai saat inipun ajaran itu masih melekat kuat dalam ingatan saya. Tidak cukup hanya dalam ingatan, pernyataan itu telah terpatri di dalam hati saya.

Artinya bahwa semua bangsa Indonesi tahu dan sadar bahwa negara Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi besar dalam sektor pertanian. Hal ini dilihat mata pencaharian utama masyarakat Indonesia sampai saat ini adalah bertani. Sebagian besar dari masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor agraris ini, baik dalam bentuk sawah, ladang, kebun, atau yang lebih luas lagi dengan beternak, mencari hasil hutan, serta sektor perikanan baik laut maupun air tawar.

Namun, Kwik Kian Gie dalam tulisannya berpendapat bahwa pengelolaan semua sektor tersebut belum dapat memberikan kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Kwik Kian Gie mengatakan bahwa sumber daya pertanian ini belum dimafaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dan sumber daya hutan dan kelautan masih banyak diserap dan dimanfaatkan  oleh masyarakat luar negeri. Padahal dengan sumber daya pertanian yang melimpah itu sangat bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Kenyataan di lapangan, baru-baru ini PBB menyatakan bahwa setengah dari penduduk Indonesia adalah masyarakat miskin dengan penghasilan kurang dari US$ 2 per hari. Kwin Kian Gie mengatakan bahwa ada kekeliruan dalam arah pembangunan negara Indonesia.[1]

Keunggulan Pembangunan Pertanian di Indonesia

Secara tidak langsung Kwik mengatakan bahwa kita harus (kembali) menempatkan sektor pertanian  sebagai penggerak ekonomi di masa mendatang yang didukung oleh industri yang berbasis pertanian secara luas termasuk kehutanan dan kelautan. Saya menambahkan kata ‘kembali’ di dalam kurung karena sebenarnya pengalaman pembangunan ekonomi berbasis pertanian di masa lalu (PJP-I) sudah menunjukkan bahwa sektor pertanian telah memberi kontribusi yang sangat besar dalam perekonomian nasional. Peranan klasik dari sektor pertanian dalam perekonomian nasional adalah penyediaan bahan pangan bagi penduduk yang saat ini sudah berjumlah 220 juta jiwa. Penyediaan bahan pangan di sini menyangkut dimensi luas seperti jumlah, jenis dan kualitas, ruang (distribusi), dan waktu. Dengan peranan pertanian sebagai penyedia bahan pangan yang relatif murah, telah memungkinkan biaya hidup di Indonesia tergolong rendah di dunia. Relatif rendahnya biaya hidup di Indonesia telah menjadi salah satu daya saing perekonomian nasional. Kemudian dengan penyediaan bahan pangan yang cukup dan stabil yang diperankan oleh sektor pertanian telah memberikan sumbangan yang besar bagi stabilitas ekonomi, sosial, politik, sehingga secara keseluruhan menyumbang pada terciptanya iklim kondusif bagi pembangunan di segala bidang.

Keunggulan dari sektor pertanian ini lebih diperjelas oleh Prof. Dr. Bungaran Saragih, MEc, dalam bukunya Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi berbasis Pertanian:

Dalam penyediaan lapangan kerja di Indonesia, sektor agribisnis mempunyai kontribusi sangat besar dan terbesar di antara sektor-sektor yang ada. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, dengan jumlah angkatan kerja nasional 82 juta jiwa pada tahun 1994 (BPS, 1996) sekitar 46 persen diserap  oleh subsektor pertanian primer. Bila jumlah angkatan kerja pada subsektor agribisnis hulu, subsektor agribisnis hilir dan sektor jasa yang melayani sektor agribisnis diperhitungkan, maka paling sedikit 60 persen dari total angkatan kerja nasional diserap oleh sektor agribisnis. Dengan rata-rata jumlah anggota keluarga 4 (empat) orang, maka diperkirakan 80 persen dari jumlah penduduk Indonesia menggantungkan kehidupan ekonominya pada sektor agribisnis.

Kemudian, peranan sektor agribisnis dalam ekspor nasional juga cukup besar dan pangsanya meningkat. Menurut data ekspor Indonesia (statistik perdagangan, 1996) menunjukkan bahwa dari total ekspor Indonesia sebesar US$ 25.67 milyar pada tahun 1990, sekitar 43.4 persen atau US$ 11.15 milyar berasal dari ekspor produk-produk agribisnis. Kemudian pada tahun 1995, dari nilai total ekspor Indonesia sebesar US$ 45.4 milyar, sekitar 55.6 persen atau US$ 25.3 milyar berasal dari ekspor produk-produk agribisnis.[2]

Pendapat dari Bungaran ini senada dengan Kwik. Kwik membagi peranan sektor pertanian sebagai penggerak perekonomian nasional menjadi:

  1. Peranan dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB).
  2. Peranan penyerapan tenaga kerja.
  3. Peranan sebagai penghasil devisa.
  4. Peranan dalam pelestarian lingkungan hidup.

Dengan penjelasan di atas, timbul pertanyaan kenapa dengan potensi yang begitu besar, sektor pertanian belum dapat mensejahterakan rakyat Indonesia? Sesuai dengan pernyataan Kwik di atas bahwa ada kekeliruan dalam arah pembangunan nasional Indonesia pada masa lalu, salah satunya adalah pembangunan yang lebih dititik-beratkan kepada penembangan footloose industry yang merupakan relokasi dari negara-negara maju dan tidak berbasis pada potensi dan pengembangan sumber daya yang kita miliki. Akibatnya, sistem pembangunan seperti itu tidak dapat menumbuhkan daya saing dan tidak sustainable[3]

Pendapat ini diperkuat oleh Bungaran yang mengatakan bahwa dua dari tiga mazhab strategi industrialisasi yang berkembang di Indonesia mempunyai beberapa kelemahan. Namun, dalam masa Orde Baru dua mazhab ini yang terus dijalankan oleh pemerintah untuk mendapatkan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Mazhab pertama adalah strategi industri berspektrum luas (broad-based industry strategy). Strategi industri ini telah mulai berkembang sejak akhir tahun 1980-an yang melahirkan banyak industri footloose di Indonesia.

Mazhab kedua yaitu strategi industrialisasi dengan industri berteknologi tinggi (high-tech industry). Terdapat beberapa kelemahan dari strategi industrialisasi ini yaitu untuk mendukung strategi ini diperlukan mutu sumber daya manusia yang tinggi yang justru belum mampu dipenuhi oleh sumber daya manusia Indonesia saat ini. Kemudian industri yang menjadi pilihan strategi ini belum mempunyai industri di dalam negeri sehingga harus mengimpor. Lagipula strategi industrialisasi ini merupakan lompatan pembangunan yang dapat menciptakan kegamangan bagi rakyat dan pemerintah.[4]

Salah satu manifestasi atau perwujudan terpenting dari terabaikannya pengelolaan sektor pertanian dan penekanan yang berlebihan terhadap pertumbuhan perkotaan itu telah menimbulkan gelombang migrasi para petani yang menganggur tanpa lahan garapan dari daerah pedesaaan secara besar-besaran ke kota-kota yang sebenarnya sudah terlampau padat.

Secara tradisional, peranan pertanian dalam pembangunan ekonomi hanya dipandang pasif dan hanya sebagai unsur penunjang  semata. Berdasarkan pengalaman historis dari negara-negara barat, apa yang disebut sebagai pembangunan ekonomi indentik dengan transformasi yang cepat terhadap perekonomian, yakni dari perekonomian yang bertumpu pada kegiatan pertanian menjadi industri modern dan pelayan masyarakat yang lebih kompleks. Dengan demikian, peran utama pertanian hanya dianggap sebagi sumber tenaga kerja dan bahan-bahan pangan yang murah demi berkembangnya sektor-sektor industri yang dinobatkan sebagai sektor unggulan.

Dewasa ini, para pakar ilmu ekonomi pembangunan mulai kurang berminat untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada upaya industrialisasi secara cepat. Nampaknya mereka mulai menyadari bahwa daerah pedesaan pada umumnya dan sektor pertanian pada khususnya tidak bersifat pasif, tetapi jauh lebih penting dari sekedar penunjang dalam proses pembangunan ekonomi secara keseluruhan.[5]

Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Kwik[6] dan Bungaran[7] yang mengatakan bahwa Indonesia harus dapat menyusun konsep pembangunan yang menempatkan pembangunan pertanian dan pemanfaatan sumber daya alam sebagai mesin penggerak utama (prime mover) perekonomian nasional.

Todaro[8] kemudian mengatakan suatu strategi pembangunan ekonomi yang dilandaskan pada prioritas pertanian dan ketenagakerjaan paling tidak memerlukan tiga unsur pelengkap dasar, yakni:

  1. Percepatan pertumbuhan output melalui serangkaian penyesuaian teknologi, institusional dan insentif harga yang khusus dirancang untuk meningkatkan produktifitas para petani kecil.
  2. Peningkatan permintaan domestik terhadap output pertanian yang dihasilkan dari strategi pembangunan perkotaan yang berorientasikan pada upaya pembinaan ketenagakerjaan.
  3. Diversifikasi kegiatan pembangunan daerah pedesaan yang bersifat padat karya, yaitu nonpertanian, yang secara langsung dan tidak langsung akan menunjang dan ditunjang oleh masyarakat pertanian.

Hambatan Pembangunan Pertanian

Namun, konsep pembangunan pertanian yang telah dilakukan pemerintah bukan tanpa kendala dan kelemahan. Pembangunan bidang pertanian merupakan salah satu contoh bagaimana wacana, pengetahuan dan reproduksi kekuasaan berlangsung dengan pelaksanaan pembangunan dari atas (top-down) tanpa melibatkan penduduk setempat dalam proses perencanaan dengan tidak mengutamakan pentingnya dan berpotensinya pengetahuan lokal serta yang paling mendasar tidak menyajikan kemungkinan luas bagi berkembangnya budaya petani.[9]

Bagi sejumlah keluarga besar pertanian yang para anggotanya merupakan tenaga kerja pokok, pertanian bukan hanya sebagai sebuah pekerjaan atau sebagai sumber pendapatan, tetapi juga sebagai pandangan dan gaya hidup. Kenyataan ini sebenarnya mudah dilihat terutama pada masyarakat-masyarakat tradisional dimana petani sepanjang hari mengabdikan diri menggarap lahannya dengan dedikasi penuh. Setiap perubahan metode produksi dengan sendirinya akan membawa perubahan-perubahan dalam pandangan hidup mereka. Oleh karena itu, agar membuahkan hasil yang diharapkan, setiap pengenalan inovasi biologi dan teknologi pertanian bukan hanya harus diadaptasikan kepada keadaan alam dan ekonomi saja. Tetapi juga kepada sikap, nilai-nilai dan tingkat kemampuan para petani itu sendiri sehingga mereka mau dan mampu memahami menerima serta melaksanakan perubahan-perubahan metode produksi yang lebih baik.

Dalam pembangunan pertanian, koperasi memegang peran yang sangat strategis seperti yang telah terjadi di banyak negara. Keberhasilan pembangunan pertanian di berbagai negara antara lain disebabkan karena peran yang disumbangkan oleh koperasi sebagai organisasi ekonomi yang berbasis petani-petani sebagai anggotanya. Kemampuan koperasi untuk memberdayakan petani di satu pihak dan partisipasi aktif petani di lain pihak telah menjadikan koperasi tidak hanya sebagai sarana petani untuk memajukan kepentingannya, akan tetapi sekaligus sebagai intermediari pembangunan yang produktif dan efektif.

Berdasarkan konsep seperti itu maka pada permulaan tahun 70-an dibangun Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai koperasi pertanian dalam rangka pembangunan pertanian (rakyat) pada umumnya dan khususnya untuk peningkatan produksi pangan. Akan tetapi tujuan awal tersebut menjadi tidak tercapai karena KUD sejak 20 tahun yang lalu dengan berbagai alasan oleh pemerintah telah diubah menjadi Koperasi Pedesaan yaitu sebagai satu-satunya koperasi daerah/pertanian yang menopang semua kegiatan ekonomi dari semua golongan masyarakat, meskipun kepentingannya berbeda dan sering kali bertentangan. Dengan demikian KUD tidak homogen lagi dan kepentingan serta peran petani seringkali menjadi terpinggirkan oleh kekuatan nonpetani yang lebih kuat. Peran KUD sebagai sarana strategis pembangunan pertanian akhirnya berubah dari alat petani/anggota, menjadi alat program pemerintah dan malahan alat pemerintah dan akhir-akhir ini cenderung menjadi alat politik kelompok tertentu.[10] Keadaan ini tentunya bertolak belakang dengan keberhasilan Grameen Bank di Bangladesh yang mengantarkan Muhammad Yunus mejadi peraih nobel perdamaian tahun 2006 ini. [11]

Referensi

Buku/Jurnal

Gie, Kwik Kian. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Nasional: Sektor Pertanian Sebagai “Prime Mover” Pembangunan Ekonomi Berkembang dalam Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir (Ed. ISEI). Jakarta: Kanisius.

Murthi, Bayu Krisna, Dr. Ir. MA, dkk (Penyusun). Membangun Koperasi Pertanian dan Koperasi Perkreditan Memasuki Milenium Ketiga. Jakarta: Lembaga Studi Pengembangan Perkoperasian Indonesia, 1999.

Saragih, Bungaran. Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Jakarta: Pusat Studi Pembangunan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor, 1998.

Todaro, Michael P. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Jilid 1. Jakarta: Erlangga, 2003.

Winarto, Yunita T. dkk. “Pembangunan Pertanian: Pemasukan Kebebasan Petani” dalam Antropologi Indonesia 23(59): 66-79.

Artikel

Suwarna, Budi. M. Yunus, Bankir Kaum Papa, Artikel Kompas tanggal 14 Oktober 2006.


[1] Kwik Kian Gie, Kebijakan dan Strategi Pembangunan Nasional: Sektor Pertanian Sebagai “Prime Mover” Pembangunan Ekonomi Berkembang dalam Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir (Ed. ISEI). Jakarta: Kanisius, hlm. 301.

[2] Bungaran Saragih, Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Jakarta: Pusat Studi Pembangunan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor, 1998, hlm. 15-17.

[3] Kwik Kian Gie, Op.Cit., hlm.. 303.

[4] Bungaran Saragih, Op.Cit., hlm. 12

[5] Michael P. Todaro, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Jilid 1. Jakarta: Erlangga, 2003. hlm. 469.

[6] Kwik Kian Gie, Op.Cit., hlm 303.

[7] Bungaran Saragih, Op.Cit., hlm. 2.

[8] Michael P. Todaro, Op.Cit., hlm. 469.

[9] Yunita T. Winarto dkk, Pembangunan Pertanian: Pemasukan Kebebasan Petani dalam Antropologi Indonesia 23(59): 67

[10] Dr. Ir. Bayu KrisnaMurthi, MA, dkk (Penyusun), Membangun Koperasi Pertanian dan Koperasi Perkreditan Memasuki Milenium Ketiga. Jakarta: Lembaga Studi Pengembangan Perkoperasian Indonesia, 1999, hlm. V.

[11] Budi Suwarna, M. Yunus, Bankir Kaum Papa, Artikel Kompas tanggal 14 Oktober 2006.

About these ads

Responses

  1. Saya setuju dengan yang diutarakan anda, sebab sektor pertanian adalah sektor real yang paling stabil ketika ada krisis ekonomi melanda seperi krisis yang terjadi tahun kemarin, sehingga perlu upaya serta perhatian lebih dalam sektor ini demi meningkatkan kestabilan perekonomian bangsa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: