Posted by: Arief Hilman Arda | February 24, 2010

Beberapa Kritik Terhadap Artikel “Dapatkah Sistem Matrilineal Bertahan Hidup di Kota Metropolitan?”

BEBERAPA KRITIK TERHADAP ARTIKEL

“DAPATKAH SISTEM MATRILINEAL BERTAHAN HIDUP

DI KOTA METROPOLITAN?”


Arief Hilman Arda


Artikel dari Amri Marzali yang berjudul “Dapatkan Sistem Matrilineal Bertahan Hidup di Kota Metropolitan?” ini menarik perhatian saya karena membahas perubahan sosial budaya masyarakat Minangkabau sebagai budaya yang saya anut dan jalankan selama ini.

Dalam artikel ini, Amri Marzali memulai tulisannya dengan menggambarkan etnografi masyarakat Minangkabau. Etnografi ini ditulis melalui pengamatan yang beliau lakukan mulai dari tahun 1972 sampai tahun 2000 (Marzali, 2000: 1). Penelitian ini dilakukan terhadap kelompok masyarakat Silungkang di Nagari Silungkang, Kotamadya Sawah Lunto. Penelitian ini beliau lakukan terhadap masyarakat Silungkang yang ada di daerah asal dan masyarakat Silungkang yang ada di kota Jakarta.

Artikel ini mempermasalahkan tentang gambaran sistem matrilineal pada masyarakat Minangkabau yang berdiam di kota metropolitan seperti Jakarta dan sampai seberapa jauh roda matrilineal tersebut masih bertahan hidup di Jakarta. Dari hasil analisanya, Amri Marzali menyatakan bahwa sebagian  prinsip matrilineal sudah tidak dijalankan lagi dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau di Jakarta (Marzali, 200:12).

Namun untuk mendukung pendapatnya ini, saya kurang setuju dengan gambaran etnografi masyarakat Minangkabau yang diberikan oleh Amri Marzali karena sebagian besar dari gambaran etnografi tersebut tidak sesuai lagi dengan keadaan masyarakat Minangkabau pada saat ini.

Dari beberapa etnografi masyarakat Minangkabau yang pernah saya baca termasuk dalam tulisan Amri Marzali ini, saya – sebagai generasi yang lahir pada tahun 80-an – tidak menemukan gambaran masyarakat Minangkabau seperti yang dipaparkan dalam masing-masing etnografi tersebut di dalam masyarakat desa Baso – 13 km dari Bukittinggi, sebuah desa dimana saya lahir dan menempuh pendidikan sampai SMU. Pengalaman saya ini tentunya juga bisa mewakili gambaran umum tentang keadaan masyarakat Minangkabau secara keseluruhan.

Perbedaan yang paling mencolok antara gambaran dalam etnografi Minangkabau dalam tulisan Amri Marzali dengan keadaan di lapangan terutama  terletak pada bentuk keluarga. Generasi saya sudah tidak menemukan lagi sistem kekeluarga luas seperti yang digambarkan di dalam etnografi tersebut. Saat ini, pada umumnya keluarga masyarakat Minangkabau berbentuk keluarga batih yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Saya belum menemukan tahun yang pasti yang bisa menerangkan sejak kapan bentuk keluarga batih ini menjadi pilihan di dalam masyarakat Minangkabau.

Amri Marzali masih memaparkan bahwa bentuk keluarga luas sebagai bentuk keluarga masyarakat Minangkabau. Saya tidak menemukan dalam tulisan Amri Marzali ini apakah bentuk keluarga luas ini masih dijalankan atau hanya sebagai bentuk ideal pada masyarakat Silungkang sebagai lokasi penelitian Amri Marzali (Marzali, 200: 10-11)

Dengan berubahnya bentuk keluarga luas ke keluarga batih, maka banyak nilai-nilai lain yang berubah. Misalnya pergeseran peran mamak dan ayah. Pada masa sekarang, saudara laki-laki ibu (mamak) tidak lagi mempunyai hak dan kewajiban terhadap anak dari saudara perempuannya (kemenakan). Tanggung jawab terhadap anak sepenuhnya terletak di tangan ayah. Pada masa sekarang, ayah bertindak sebagai “ayah biologis” dan juga “ayah sosial”. Pernyataan dalam tulisan Amri Marzali yang mengatakan “bapak adalah ayah biologis dari anak-anaknya, sedangkan ayah sosial dari anak-anak tersebut adalah mamaknya” tidak akan ditemukan lagi di lapangan (Marzali, 2000: 10-11). Saya menyangsikan etnografi ini merupakan gambaran masyarakat Minangkabau di Silungkang seandainya memang rentang waktu penelitiannya dari tahun 1972 sampai 2000. Gambaran ini hanyalah bentuk yang pernah ada di dalam masyarakat Minangkabau pada masa lalu.

Saya tidak akan mengatakan kalau bentuk yang lama itu sebagai bentuk yang ideal. Saya tidak akan terjebak dengan pemikiran esensialisme yang memandang bahwa setiap kebudayaan mempunyai esensi yang statis dan tidak akan berubah selama-lamanya (Alam, 1999: 8 ) seperti pendekatan struktural fungsionalisme yang dipakai oleh Amri Marzali dalam menjelaskan masyarakat Minangkabau. Bourdieu berpendapat bahwa Radcliffe-Brown sebagai tokoh struktural fungsional beserta tokoh-tokoh antropologi klasik lainnya seperti Durkheim, merupakan tokoh-tokoh esensialis yang cenderung melihat aturan, norma, nilai-nilai sebagai strategi of action (Barfield, 1997: 376).

Saya setuju dengan claim dari Amri Marzali yang mengatakan bahwa sebagian besar prinsip kultural matrilineal sudah tidak dijalankan lagi dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau di Jakarta. Pernyataan ini dikeluarkan pada tahun 2000, sekitar waktu diterbitkannya artikel ini di dalam jurnal Antropologi Indonesia Th. XXIV, No. 61 edisi Januari-April 2000.

Namun, saya mempertanyakan lagi tentang ketepatan waktu terhadap keluarnya pernyataan ini. Amri Marzali hanya menjelaskan tentang gambaran sistem matrilineal pada masyarakat Minangkabau di Jakarta. Padahal, di daerah asalnya sendiri sistem matrilineal ini sudah lama tidak dijalankan secara utuh, terutama dalam bentuk keluarga serta pembagian wewenang antara ayah dan mamak. Tentunya dalam kehidupan masyarakat Minangkabau di perantauan juga tidak akan menjalankan prinsip-prinsip ini jika di daerah asalnya sendiri sudah tidak dijalankan.

Satu bukti yang mengagetkan lagi saya temukan dalam pernyataan dari Mohammad Hatta – salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia – dalam memoirnya. Di sana Hatta menuliskan bahwa dalam keluarganya pada masa kecilnya di Bukittinggi, sudah tidak melaksanakan lagi bentuk keluarga luas ini. Hatta tinggal bersama ibu, ayahnya dan saudara-saudaranya. Hatta lahir pada tahun 1908. Jadi, kira-kira pada tahun 1900-an sampai 1915-an perubahan sosial terhadap bentuk keluarga luas ini sudah dimulai pada daerah asalnya, dalam hal ini di Bukittinggi. Namun, Hatta juga menuliskan bahwa di kampung-kampung di sekitar kota tempat ia lahir masih melaksanakan bentuk keluarga luas ini. (Dalam perkiraan saya, bisa saja Bung Hatta bukan orang Minangkabau asli atau pendatang di Bukittinggi sehingga keluarga beliau tidak menerapkan bentuk keluarga luas).

Ada satu hal lagi yang merupakan perbedaan pandangan saya dengan pandangan yang dijelaskan oleh Amri Marzali dalam tulisannya. Saya berpendapat bahwa salah satu alasan terpenting kenapa masyarakat Minangkabau melakukan perpindahan dari tempat asal mereka ke berbagai tempat termasuk Jakarta adalah untuk menghindari kerumitan dari sistem matrilineal yang ada di daerah asal mereka seperti yang dikatakan oleh David Schneider dan antropolog Inggris A.I. Richard sebagai kerumitan-kerumitan yang ditemui pada sistem matrilineal. Schneider mengatakan bahwa laki-laki dalam sistem matrilineal hanya menjadi pejantan, tidak mendapat warisan. Kompensasinya, laki-laki pada sistem matrilineal cenderung merantau (Diktat mata kuliah Organisasi Sosial dan Sistem Kekerabatan).

Pendapat saya ini terinspirasi dari buku Hamka yang berjudul Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi. Secara garis  besar, isi buku ini menjelaskan pokok pikiran Hamka mengenai kerumitan-kerumitan dalam sistem matrilineal di Minangkabau yang menyebabkan seorang suami lebih suka membawa istrinya merantau keluar daerah untuk membentuk keluarga batih di negeri orang.

Secara teori, gejala sosial ini merupakan contoh dari teori praktek (practice) dari Bourdieu. Bourdieu mencoba menjelaskan hal ini dengan menyatakan bahwa di antara manusia sebagai “subjek” dan kebudayaan sebagai “struktur objektif” terdapat suatu hubungan terus menerus, dimana manusia mencoba mengolah dan mengkonstruksi simbol-simbol budaya tersebut demi kepentingannya dalam kondisi sosial, ekonomi, politik tertentu, tetapi sebaliknya simbol-simbol budaya mempunyai kecenderungan untuk menjadi struktur yang baku. Usaha-usaha manusia untuk mengkonstruksi simbol atau nilai budaya disebut “praktek (practice) oleh Bourdieu (Alam, 1998: 2)

Bertolak belakang dari pendapat saya bahwa salah satu alasan masyarakat Minangkabau merantau adalah untuk menghindari kerumitan dalam kehidupan yang menganut sistem matrilineal, maka secara logika mereka tidak akan menjalankan lagi sebagian prinsip-prinsip matrilineal ini di daerah perantauan mereka, terutama pada prinsip-prinsip bentuk keluarga luas dan pembagian wewenang antara ayah dan mamak.

Kesimpulan

Saya melihat kurang tepat untuk membahas dan menganalisa gejala sosial pada masa kini  seperti keberlangsungan sistem matrilineal di kota Jakarta ini dengan menggunakan data etnografi dari kebudayaan masyarakat Minangkabau padahal sebagian nilai-nilai pokok yang digambarkan dalam etnografi  tidak dijalankan lagi oleh masyarakat tersebut pada saat sekarang ini.

Saya juga berkesimpulan bahwa alasan utama kenapa sistem matrilineal tidak dijalankan lagi bukan karena mereka tidak mampu melaksanakannya dengan alasan jauh dari negeri asal, namun karena mereka tidak mau lagi menjalankan sebagian prinsip matrilineal ini.

Referensi

Alam, Bactiar. Konsep Kebudayaan Dewasa Ini: Seputar Pertanyaan mengenai Konstruksi Budaya, Esensialisme dan Kekuasaan. Pokok-pokok Presentasi pada Acara Diskusi Terbatas Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), tanggal 20 Juni di Depok, 1998.

Alam, Bactiar. “Antropologi dan Civil Society: Pendekatan Teori Kebudayaan”, Antropologi Indonesia 23(60): 3-9, 1999.

Diktat Mata Kuliah Organisasi Sosial & Sistem Kekerabatan. Jurusan Antropologi FISIP UI. Tidak Diterbitkan.

Barfield, Thomas. The Dictionary of Anthropology. Oxford: Blackwell Publishers Inc, 1997.

Marzali, Amri. “Dapatkah Sistem Matrilineal Bertahan Hidup di Kota Metropolitan?”,  Antropologi Indonesia 24(61):1-15, 2001.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: