Posted by: Arief Hilman Arda | February 24, 2010

Konsep Jaringan Sosial dalam Perspektif Antropologi

Konsep Jaringan Sosial dalam

Perspektif Antropologi

Arief Hilman Arda


Soekanto (2000, 76-77) mengatakan bahwa terdapat beberapa bentuk hubungan setiap komunitas yaitu kerjasama (co-operation), persaingan (competition), pertentangan (conflict) serta akomodasi (Soekanto, 2000: 76-77). Hubungan sosial merupakan hasil dari interaksi (rangkaian tingkah laku) yang sistematik antara dua orang atau lebih. Suatu hubungan sosial akan ada jika tiap-tiap orang dapat meramalkan secara tepat macam tindakan yang akan datang dari pihak lain terhadap dirinya (Spradley dan McCurdy, 1972: 8). Disebut sistemik karena terjadinya secara teratur dan berulang kali dengan pola yang sama (Spradley dan McCurdy, 1975: 116). Pola dari interaksi ini disebut sebagai hubungan sosial dan hubungan sosial akan membentuk jaringan sosial.

Agusyanto dalam tulisannya tentang jaringan sosial arek-arek Suroboyo mengatakan bahwa:

Jaringan sosial terbentuk dalam masyarakat karena pada dasarnya manusia tidak dapat berhubungan dengan semua manusia yang ada; hubungan selalu terbatas pada sejumlah orang tertentu. Setiap orang belajar dari pengalamannya untuk masing-masing memilih dan mengembangkan hubungan-hubungan sosial yang terbatas jumlahnya dibandingkan dengan jumlah rangkaian hubungan sosial yang tersedia, disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada pada individu yang bersangkutan sehingga dalam usaha peningkatan taraf hidup juga tidak menggunakan semua hubungan sosial yang dimilikinya (Agusyanto, 1991: 14).

Pendekatan jaringan sosial sebagai salah satu pendekatan dalam studi antropologi berupaya untuk memahami bentuk dan fungsi hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat yang kompleks. Pendekatan jaringan sosial mulai dikembangkan secara intensif pada tahun 1970-an. Pendekatan jaringan sosial timbul karena ada rasa ketidakpuasan dari para ahli antropologi terhadap pendekatan struktural fungsional. Para ahli antropologi saat itu merasakan adanya kekurangan dari pendekatan struktural yang mereka gunakan ketika mulai mengarahkan perhatian mereka pada masyarakat kompleks. Hal ini terjadi karena pendekatan struktural fungsional dibangun melalui penelitian-penelitian  pada masyarakat tribal yang masih sederhana dan berskala kecil dengan perubahan yang relatif lambat.

Dengan pendekatan struktural fungsional, para ahli dapat mengungkapkan dengan baik keseluruhan aspek kebudayaan dan hubungan antaraspek kebudayaan tersebut pada masyarakat yang ditelitinya dalam kesatuan yang fungsional. Namun, kesulitan timbul ketika para ahli antropologi berupaya untuk memahami susunan hubungan sosial yang terdapat dalam masyarakat setempat yang sudah kompleks (Mitchell, 1969: 8). Oleh karena kesulitan-kesulitan tersebut, maka para ahli antropologi membutuhkan suatu model baru yang dapat digunakan untuk memahami gejala-gejala sosial yang kompleks, terutama dalam masyarakat perkotaan; dan konsep jaringan sosial menjadi jawaban untuk mengatasi kesulitan tersebut. Mereka melihat pentingnya jaringan-jaringan hubungan personal untuk memahami  perilaku masyarakat (Mitchell, 1969). Keterikatan individu-individu dalam hubungan-hubungan sosial adalah pencerminan dirinya sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan masyarakat, hubungan-hubungan sosial yang dilakukan individu merupakan suatu upaya untuk mempertahankan keberadaannya.

Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas atau intensitas hubungan-hubungan sosial yang dilakukannya, sekalipun dalam kehidupan masyarakat terbuka luas peluang bagi individu untuk melakukan hubungan sosial secara maksimal. Hubungan-hubungan tersebut tidak hanya melibatkan dua individu, tetapi juga banyak individu. Keterhubungan antarindividu-individu tersebut akan membentuk suatu jaringan sosial yang sekaligus merefleksikan  terjadinya pengelompokan sosial dalam kehidupan masyarakat (Kusnadi, 1998: 11-12).

Pendekatan jaringan sosial berupaya mengatasi kekurangan pendekatan struktural fungsional yang cenderung statis dalam memahami masyarakat. Kecenderungan statis dari pendekatan struktur sosial adalah memahami sistem dalam masyarakat yang senantiasa bersifat serasi, selaras dan seimbang (harmony). Sesuatu yang luput dari perhatian dalam pendekatan struktur fungsional adalah adanya dinamika yang ada di dalam masyarakat. Di antara dinamika tersebut adalah adanya dimensi-dimensi yang tersembunyi (hidden dimension) dalam masyarakat. Dalam konteks inilah maka pendekatan jaringan sosial memiliki signifikansi.

Meskipun Radcliffe-Brown menjadi tokoh struktural fungsional, namun pada bagian tertentu Radciffe-Brown juga menyebutkan bahwa masyarakat merupakan jaringan dari jaringan-jaringan sosial (network of social networks). Setelah itu, konsep jaringan sosial ini direvisi oleh beberapa ahli di antaranya Mitchell, 1969; Barnes, 1969; Epstein, 1969; Wolfe, 1976 dan Macmillan, 1986 (Adib, 1999: I-18).

Jaringan sosial pertama kali digunakan oleh Barnes di dalam studinya mengenai umat gereja yang menempati sebuah pulau di Norwegia. Konsep yang digunakannya kemudian dikembangkan oleh Bott dalam studinya mengenai peranan suami-istri yang terdapat pada keluarga-keluarga di London. Keduanya melihat jaringan sosial sebagai rangkaian hubungan-hubungan yang dibuat oleh seorang individu di sekitar  dan berpusat pada dirinya sendiri berdasarkan atas pribadinya (Mitchell, 1969: 8).

Pada saat Barnes meneliti masyarakat nelayan di Bremnes, Norwegia, ia merasakan bahwa analisis struktural fungsional pada masa itu yang (tahun 50-an) yang sudah umum digunakan oleh kalangan ahli antropologi Inggris untuk meneliti suatu kebudayaan masyarakat, kurang memadai. Sebelumnya, studi-studi klasik di bidang antropologi telah memanfaatkan analisis struktural fungsional untuk memahami kebudayaan suatu masyarakat tribal atau masyarakat sederhana berskala kecil. Kesulitan yang dihadapi Barnes adalah bahwa kondisi masyarakat Bremnes tidak dapat lagi disebut sebagai masyarakat sederhana, sehingga untuk memahami susunan hubungan-hubungan sosial yang terdapat di masyarakat setempat, penerapan secara konvensional analisis struktural fungsionalisme dirasakan kurang memadai lagi. Atas dasar itu, analisis jaringan sosial diusulkan untuk mengatasi kekurangan analisis struktural fungsionalisme (Mitchell, 1969: 8).

Suatu saran penting lain dari Barnes adalah bahwa pendekatan jaringan sosial itu cocok untuk menganalisis masalah lapisan sosial, terutama lapisan sosial yang tidak tradisional, tidak resmi dan tidak ketat. Namun metodologi apa yang sebaiknya digunakan para ahli ilmu sosial untuk melakukan analisis seperti itu, tidak jelas juga. Walaupun Barnes belum sampai mengembangkan konsep social network itu  lebih lanjut, konsep itu sudah menjadi terkenal di kalangan ilmu-ilmu sosial yang lebih luas (Koentjaraningrat, 1990: 22-23).

Dalam studinya tentang struktur hubungan-hubungan sosial ini, Barnes mengatakan bahwa masyarakat menjalin ikatan-ikatan sosial berdasarkan atas unsur-unsur kekerabatan, ketetanggaan dan pertemanan. Ikatan-ikatan tersebut dapat berlangsung di antara mereka yang memiliki status sosial ekonomi yang sepadan atau tidak sepadan. Atas dasar ini Barnes menyebutkan bahwa ikatan-ikatan tersebut merupakan unsur pembentuk sistem kelas yang ada di Bremnes. Selanjutnya dikatakan bahwa setiap individu memiliki peluang yang sama antara berhubungan atau tidak berhubungan dengan beberapa orang. Setiap orang melihat dirinya sebagai pusat dari jaringan yang dimilikinya. Ikatan-ikatan sosial yang terbentuk merupakan sarana yang menjembatani hubungan-hubungan di antara anggota jaringan. Dalam masyarakat yang tidak begitu kompleks, tentu saja hubungan-hubungan tersebut akan terjadi lebih intensif. Ditegaskan oleh Barnes bahwa ikatan-ikatan jaringan-jaringan kekerabatan, ketetanggaan dan pertemanan tidak bersifat eksklusif. Dalam jaringan-jaringan yang terbentuk tersebut hubungan-hubungan sosial dan keanggotaannya melampaui batas-batas teritorial dan keberadaan masyarakat yang bersangkutan (Haryono, 1999: 26-27)

Mitchell (1969: 1-2) melihat jaringan sosial sebagai seperangkat hubungan khusus atau spesifik yang terbentuk di antara sekelompok orang yang karakteristik hubungan-hubungan tersebut dapat digunakan untuk menginterpretasi motif-motif perilaku sosial  dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Definisi jaringan sosial yang lain diberikan oleh Suparlan, yaitu:

Jaringan sosial adalah sebagai suatu pengelompokan yang terdiri atas sejumlah orang, paling sedikit terdiri atas tiga orang yang masing-masing mempunyai identitas tersendiri dan masing-masing dihubungkan antara satu dengan yang lainnya melalui hubungan-hubungan sosial yang ada, sehingga melalui hubungan sosial tersebut mereka dapat dikelompokkan sebagai suatu kesatuan sosial (Suparlan, 1982: 35).

Suparlan (1982: 36-39) mengatakan ada beberapa hal yang merupakan ciri-ciri utama dari jaringan sosial, yaitu:

1. Titik-titik, merupakan titik-titik yang dihubungkan satu dengan lainnya oleh satu atau sejumlah garis yang dapat merupakan perwujudan dari orang, peranan, posisi, status, kelompok, tetangga, organisasi, masyarakat, negara dan sebagainya.

2. Garis-garis, merupakan penghubung atau pengikat antara titik-titik yang ada dalam suatu jaringan sosial yang dapat berbentuk pertemuan, kekerabatan, pertukaran, hubungan superordinat-subordinat, hubungan-hubungan antarorganisasi, persekutuan militer dan sebagainya.

3. Ciri-ciri struktur. Pola dari garis yang menghubungkan serangkaian atau satu set titik-titik dalam suatu jaringan sosial dapat digolongkan dalam jaringan sosial tingkat mikro atau mikro, tergantung dari gejala-gejala yang diabstraksikan. Contoh dari jaringan tingkat mikro yang paling dasar adalah suatu jaringan yang titik-titiknya terdiri atas tiga buah yang satu sama lainnya dihubungkan oleh garis-garis yang mewujudkan segitiga yang dinamakan triadic balance (keseimbangan segitiga); sedangkan contoh dari jaringan tingkat makro ditandai oleh sifatnya yang menekankan pda hubungan antara sistem atau organisasi, atau bahkan antarnegara.

4. Konteks (ruang). Setiap jaringan dapat dilihat sebagai terwujud dalam suatu ruang yang secara empiris dapat dibuktikan  (yaitu secara fisik), maupun dalam ruang yang didefenisikan secara sosial, ataupun dalam keduanya. Misalnya, jaringan transportasi selalu terletak dalam suatu ruangan fisik, sedangkan jaringan perseorangan yang terwujud dari hubungan-hubungan sosial tidak resmi yang ada dalam suatu organisasi adalah suatu contoh dari suatu jaringan yang terwujud dalam satu ruang sosial. Jaringan komunikasi dapat digambarkan sebagai sebuah peta baik secara fisik, yaitu geografis maupun menurut ruang sosialnya, yaitu yang menyangkut status dan kelas sosial.

5. Aspek-aspek temporer. Untuk maksud-maksud sesuatu analisa tertentu, sebuah jaringan sosial dapat dilihat baik secara sinkronik maupun secara diakronik, yaitu baik sebagai gejala yang statis maupun dinamis.

Dilihat dari skala hubungan sosial yang dapat dimasuki oleh individu-individu, Barnes (1969, 55-57) menyebutkan adanya dua macam jaringan, yaitu jaringan total dan jaringan bagian. Jaringan total adalah keseluruhan jaringan yang dimiliki individu dan mencakup berbagai konteks atau bidang kehidupan dalam masyarakat. Jaringan bagian adalah jaringan yang dimiliki oleh individu terbatas pada bidang kehidupan tertentu, misalnya jaringan politik, jaringan keagamaan, jaringan kekerabatan, dan sebagainya.

Jaringan-jaringan hubungan yang terbentuk di dalam masyarakat menjadi sedemikian penting bagi masyarakat tersebut  karena di dunia ini tidak ada manusia yang tidak menjadi bagian dalam jaringan-jaringan hubungan sosial dengan manusia lainnya di dalam masyarakatnya. Manusia di bumi ini selalu membina hubungan sosial dengan manusia lain di manapun ia tinggal dan hidup sebab manusia pada dasarnya tidak dapat dan tidak sanggup hidup sendiri. Sebuah masyarakat dapat dipandang sebagai jaringan hubungan sosial antarindividu yang sangat kompleks. Seorang individu hanya menjadi anggota dari jaringan-jaringan sosial tertentu dan tidak menjadi anggota jaringan-jaringan yang lain. Hal ini disebabkan oleh ketidaksanggupan manusia untuk berhubungan dengan semua manusia yang ada; hubungannya selalu terbatas pada sejumlah orang tertentu.

Hubungan-hubungan sosial di mana setiap individu dilekatkan dapat dilihat sebagai sebuah jaringan. Jaringan sosial dapat dilihat sebagai sejumlah kecil titik-titik yang dihubungkan oleh garis-garis. Titik-titik  ini dapat berupa orang, peranan, posisi, status, kelompok, tetangga, organisasi, masyarakat, nasion atau negara dan sebagainya. Garisnya ini dapat merupakan perwujudan dari hubungan sosial antarindividu, pertemuan, kekerabatan, pertukaran, hubungan superordinat-subordinat, hubungan antarorganisasi, persekutuan militer, dan sebagainya (Suparlan, 1982: 37).

Tiap-tiap individu dapat dilihat sebagai bintang, tempat awal garis-garis hubungan sosial menyebar kepada individu-individu lain. Boissevain menyebutkan bahwa daerah jaringan utama  (primary network zone) merupakan daerah tempat individu pertama melakukan hubungan langsung dengan individu-individu kedua. Namun, individu-individu kedua ini juga melakukan kontak dengan individu-individu ketiga yang mungkin sekali tidak dikenal oleh individu pertama. Individu pertama dapat melakukan kontak dengan individu ketiga melalui individu kedua. Inilah pentingnya teman dari teman. Dengan demikian, dalam kenyatannya semua masyarakat dapat dilihat sebagai sebuah jaringan dan melalui jaringan itu seorang individu dapat berhubungan dengan semua orang (Boissevain, 1974: 24-25)

Setiap individu belajar melalui pengalamannya untuk masing-masing memilih dan mengembangkan hubungan-hubungan sosial yang tersedia dalam masyarakat, disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada pada diri individu yang bersangkutan. Manusia tidak menggunakan semua hubungan sosial yang dimilikinya dalam mencapai tujuan-tujuannya, tetapi disesuaikan dengan ruang dan waktu atau konteks sosialnya (Agusyanto, 1996: 14). Dengan demikian, hubungan-hubungan sosial itu tidak terjadi/terbentuk secara acak, melainkan menunjukkan adanya suatu keteraturan.

Di dalam kehidupan masyarakat kompleks, khususnya masyarakat perkotaan, dijumpai adanya tiga jenis keteraturan hubungan-hubungan sosial, yaitu: (1) keteratuan struktural (structural order), adalah perilaku orang-orang ditafsirkan  dalam istilah tindakan-tindakan yang sesuai dengan posisi yang mereka duduki dalam seperangkat tatanan posisi-posisi, seperti dalam suatu perusahaan, keluarga, asosiasi-asosiasi sukarela, partai politik atau organisasi-organisasi sejenis; (2) keteraturan kategorikal (categorical order), adalah perilaku orang-orang dalam situasi tidak terstruktur yang dapat ditafsirkan dengan istilah stereotipe seperti kelas, ras dan kesukubangsaan; (3) keteraturan personal (personal order), adalah perilaku orang-orang, baik dalam situasi-situasi terstruktur atau tidak terstruktur, dapat ditafsirkan  dalam istilah hubungan-hubungan antarindividu dalam suatu kelompok atau hubungan antara suatu kelompok dengan kelompok lain seperti jaringan sosial keluarga yang diteliti oleh Bott (Mitchell, 1969: 9-10).

Keteraturan dalam jaringan sosial berimplikasi pada pembentukan struktur sosial. Struktur sosial dapat didefinisikan sebagai pola dari hak dan kewajiban para pelaku dalam suatu sistem interaksi yang terwujud dari rangkaian-rangkaian hubungan sosial yang relatif stabil dalam suatu jangka waktu tertentu. Pengertian hak dan kewajiban para pelaku dikaitkan dengan status dan peranan masing-masing (Suparlan, 1982: 31-34). Sekurang-kurangnya, suatu struktur sosial mengandung dua unsur, yaitu keseluruhan hubungan sosial yang ada di antara individu-individu dan perbedaan individu-individu tertentu yang secara nyata ada dan konkret. Suatu jaringan sosial akan merefleksikan pula suatu struktur sosial.

Jika individu mempunyai mobilitas diri yang tinggi untuk melakukan hubungan-hubungan sosial yang luas berarti ia akan berpeluang memiliki sejumlah jaringan. Hal ini juga berarti bahwa individu tersebut akan memasuki sejumlah pengelompokan dan kesatuan sosial, sesuai dengan ruang, waktu, situasi dan kebutuhan atau tujuan yang akan dicapai. Dalam suatu situasi, berdasarkan kebutuhan atau tujuan tertentu, seorang individu dapat menjadi anggota suatu jaringan dan dalam situasi yang lain, ia dapat menjadi anggota jaringan sosial yang berbeda. Keanggotaan individu dalam suatu jaringan bersifat fleksibel dan dinamis. Pada dasarnya setiap individu sebagai makhluk sosial akan selalu terkait dengan jaringan  hubungan sosial yang kompleks. Apabila seorang individu memasuki sejumlah jaringan sosial yang berbeda-beda sesuai dengan konteks khusus atau fungsinya, maka hal ini akan merefleksikan struktur sosial yang berbeda pula.

Struktur sosial tidak hanya mencerminkan adanya keteraturan hubungan dalam suatu jaringan sosial, tetapi juga dapat dijadikan sarana memahami batas-batas status dan peranan serta hak dan kewajiban individu yang terlibat di dalam hubungan-hubungan sosial tersebut. Oleh karena itu, salah satu aspek penting dalam studi jaringan sosial tidak semata-mata terletak pada atribut para pelakunya, tetapi juga terletak pada karakteristik dan pola-pola hubungan di antara individu-individu di dalam jaringan sebagai cara untuk memahami dasar atau latar belakang perilaku mereka itu (Mitchell, 1969: 4).

Bila ditinjau dari tujuan hubungan sosial yang membentuk jaringan sosial yang ada dalam masyarakat, maka jaringan sosial dapat dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, adalah jaringan kekuasaan (power), merupakan jaringan hubungan-hubungan sosial  yang dibentuk oleh hubungan-hubungan sosial yang bermuatan kekuasaan. Dalam jaringan kekuasaan, konfigurasi-konfigurasi saling keterkaitan antarpelaku di dalamnya disengaja atau diatur oleh kekuasaan. Tipe jaringan ini muncul bila pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditargetkan membutuhkan tindakan kolektif dan konfigurasi saling keterhubungan antarpelaku yang biasanya bersifat permanen. Hubungan-hubungan kekuasaan ini biasanya ditujukan pada penciptaan kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Unit-unit sosialnya adalah artifisial yang direncanakan atau distrukturkan secara sengaja oleh kekuasaan. Jaringan sosial tipe ini harus mempunyai pusat kekuasaan yang secara terus menerus mengkaji ulang kinerja (performance) unit-unit sosialnya, dan mempolakan kembali strukturnya untuk kepentingan efisiensi. Dalam hal ini kontrol informal tidak memadai, masalahnya jaringan ini lebih kompleks dibanding dengan jaringan sosial yang terbentuk secara alamiah. Dengan demikian jaringan sosial tipe ini tidak dapat menyandarkan diri pada kesadaran para angotanya untuk memenuhi kewajiban anggotanya secara sukarela, tanpa insentif.

Kedua, jaringan kepentingan (interest), merupakan jaringan hubungan-hubungan sosial yang dibentuk oleh hubungan-hubungan sosial yang bermuatan kepentingan. Jaringan kepentingan ini terbentuk oleh hubungan-hubungan yang bermakna pada tujuan-tujuan tertentu atau khusus. Bila tujuan-tujuan tersebut spesifik dan konkret – seperti memperoleh pekerjaan, barang, atau jasa – maka jika tujuan-tujuan tersebut sudah dicapai oleh pelakunya, biasanya hubungan ini tidak berkelanjutan. Struktur yang muncul dari jaringan sosial tipe ini adalah sebentar dan berubah-ubah. Sebaliknya, jika tujuan-tujuan itu tidak sekonkret dan spesifik seperti itu  atau tujuan-tujuan tersebut selalu berulang, maka struktur yang terbentuk relatif stabil dan permanen.

Ketiga, jaringan perasaan (sentiment), merupakan jaringan yang terbentuk atas dasar hubungan-hubungan sosial bermuatan perasaan, dan hubungan-hubungan sosial itu sendiri menjadi tujuan dan tindakan sosial. Struktur yang dibentuk oleh hubungan-hubungan perasaan ini cenderung mantap dan permanen. Hubungan-hubungan sosial yang terbentuk biasanya cenderung menjadi hubungan dekat dan kontinyu. Di antara para pelaku cenderung menyukai atau tidak menyukai pelaku-pelaku lain dalam jaringan. Oleh karena itu muncul adanya saling kontrol secara emosional yang relatif kuat antarpelaku (Agusyanto, 1997: 26-28).

Dalam kenyataan di lapangan, sebuah jaringan sosial tidak hanya dibentuk oleh satu jenis jaringan sosial di atas. Namun, terjadi tumpang tindih antara tiga jenis bentuk hubungan sosial tersebut. Sebuah jaringan sosial dianggap sebagai jaringan kepentingan jika hubungan-hubungan yang terbentuk dalam jaringan sosial tersebut lebih dominan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan atau kepentingan-kepentingan tertentu. Dua jenis jaringan sosial yang lain, yaitu jaringan kekuasan dan jaringan perasaan tetap ada tetapi tidak dominan.

Bila dilihat dari status sosial ekonomi dari individu-individu yang terlibat dalam suatu jaringan sosial, terdapat dua jenis jaringan sosial, yaitu jaringan sosial yang bersifat horisontal dan hubungan sosial yang bersifat vertikal. Jaringan sosial bersifat horisontal jika individu-individu yang terlibat di dalamnya memiliki status sosial ekonomi yang relatif sama. Mereka memiliki kewajiban yang sama dalam perolehan sumber daya, dan sumber daya yang dipertukarkan juga relatif sama. Sebaliknya, dalam jaringan-jaringan sosial yang bersifat vertikal, individu-individu yang terlibat di dalamnya tidak memiliki status sosial ekonomi yang sepadan (Haryono, 1999: 30-31)

Jaringan sosial dapat dianggap sebagai suatu jaringan komunikasi jika di dalamnya mengalir informasi dari satu pihak ke pihak lainnya sehingga terjadi pertukaran informasi. Seorang individu dapat mengirimkan pesan kepada lebih banyak orang dibandingkan dengan banyaknya orang yang ia kenal – yang merupakan orang-orang yang melakukan hubungan langsung dengannya (primary network zone) – karena tiap-tiap orang yang berhubungan langsung dengan pemberi pesan mempunyai potensi untuk menyampaikan pesan tersebut kepada banyak orang lagi.

Menurut Ramsoy (1968 :112), konsep ‘teman’ dan ‘pertemanan’ atau ‘persahabatan’ mengacu pada hubungan sosial antara dua orang atau lebih dengan hubungan yang bersifat sukarela, dekat dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Nilai-nilai yang tercakup dalam pertemanan adalah kedekatan, solidaritas, tidak adanya maksud-maksud tersembunyi, resiprositas, dan terlepas dari pembedaan-pembedaan umur, jenis kelamin dan kelas sosial.

Wolf (1978: 10-15) membedakan hubungan pertemanan menjadi dua macam yaitu hubungan pertemanan ekspresif atau emosional dan hubungan pertemanan instrumental. Hubungan pertemanan emosional adalah hubungan dua orang teman yang tiap-tiap pihak saling memuaskan kebutuhan emosionalnya. Hubungan pertemanan instrumental adalah hubungan pertemanan yang sebenarnya tidak ditujukan untuk memperoleh akses untuk menggunakan sumber daya baik sumber daya alam maupun sosial, tetapi hal itu menjadi penting dalam hubungan pertemanan ini. Dalam hubungan instrumental ini setiap anggota hubungan diadik[1] dapat menjadi penghubung bagi orang lain di luar hubungan diadik itu. Setiap partisipan merupakan sponsor bagi mereka yang lainnya. Hal ini berarti hubungan pertemanan ini memungkinkan seseorang untuk menghubungkan temannya dengan orang lain yang mempunyai relasi atau koneksi dalam rangka mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan.

Dalam hubungan pertemanan instrumental ini tedapat rasa saling percaya dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Selain itu hubungan pertemanan ini bersifat timbal balik yang simetris dan seimbang. Hal-hal inilah yang memungkinkan hubungan pertemanan instrumental dapat terus berlanjut. Hubungan pertemanan instrumental berkembang dengan baik dalam situasi sosial yang relatif terbuka serta situasi di mana tiap-tiap pihak dapat saling berlaku sebagai sponsor bagi yang lainnya dalam rangka untuk memperluas ruang gerak sosial mereka.

Kepustakaan

Adib, Mohammad. Krisis Moneter: Jaringan Sosial Sebagai Strategi Pada Kegiatan Industri Tas dan Koper di Kawasan Intako Jawa Timur dalam Menghadapai Krisis. Tesis Magister Antropologi tidak diterbitkan. Depok: Program Pascasarjana FISIP UI, 1999.

Agusyanto, Ruddy. “Jaringan Sosial dan Kebudayaan: Kasus Arek-Arek Suroboyo. Sebuah Abstraksi Skripsi” dalam Media Ika No. 13/XIX, hlm. 13-37. Jakarta: Ikatan Kekerabatan Antropologi FISIP UI, 1991.

Agusyanto, Ruddy. Dampak Jaringan-jaringan Sosial dalam Organisasi. Kasus PAM Jaya, DKI Jakarta. Tesis Magister Antropologi tidak diterbitkan. Depok: Program Pascasarjana FISIP UI, 1996.

Agusyanto, Ruddy dan Lukito, Rijanto P. Jaringan-jaringan Sosial dalam Organisasi. Jakarta: Belum diterbitkan.

Barnes, J. A.  “Networks and Political Process” dalam Social Networks in Urban Situation: Analysis of Personal Relationships in Central Africa Town (ed. Mitchell), hlm 51-76. Manchester: University of Manchester Press, 1969.

Boissevain, Jeremy. Friends of Friends: Networks, Manipulators and Coalitions. Oxford: Basil Blackwell, 1974.

Haryono, Tri Joko Sri. Jaringan Sosial Migran Sirkuler: Studi pada Migran Sirkuler Asal Desa Kepatihan Kecamatan Sologiri Kabupaten Wonogiri yang Bermigrasi ke Jakarta. Tesis Magister Antropologi tidak diterbitkan. Depok: Program Pascasarjana FISIP UI, 1999.

Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1990.

Kusnadi. Jaringan Sosial Sebagai Strategi Adaptasi Masyarakat Nelayan. Studi Kasus di Desa Pesisir, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Tesis Antropologi. Depok: Program Pascasarjana FISIP UI, 1998.

Mitchell, J. Clyde. “The Concept and Use of Social Network” dalam Social Networks in Urban Situation: Analysis of Personal Relationships in Central Africa Town (ed. Mitchell), hlm 1-50. Manchester: University of Manchester Press, 1969.

Ramsoy, Odd. ”Friendship” dalam International Encyclopedia of The Social Science Vol. V. Dania L. Sills (Ed). London: The Macmillan Company and Free Press, 1969.

Respati, Woro Minarni Sri. Pemanfaatan Jaringan sosial Sebagai Strategi Pemenuhan Kebutuhan akan Kesempatan Kerja di Kalangan Penjahit Upahan di Daerah Kampung Melayu., Jakarta Timur. Skripsi Sarjana Antropologi tidak diterbitkan. Depok: FISIP UI, 1996.

Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2000.

Spradley, James P. dan McCurdy, David. The Culture Experince: Ethnography in Complex Society. Chicago: Science Research Associates, Inc, 1972.

Spradley, James P. dan McCurdy, David. Anthropology: The Cultural Perspective. New York: John Wiley and Sons, Inc, 1975.

Suparlan, Parsudi. “Jaringan Sosial”, dalam Media IKA Februari, No. 8/X, hlm. 29-47. Jakarta: Ikatan Kekerabatan Antropologi Fakultas Sastra UI, 1982.

Wolf, Eric. ”Kinship, Friendship and Patron Client Relationship” dalam The Social Anthropology of Complex Societies. Michael Banton (ed.) London: Tovistock Pub, 1978.


[1] Hubungan diadik yang merupakan kesatuan yang terdapat pada tingkat mikro adalah hubungan yang terbentuk antara dua orang yang saling berinteraksi di mana hubungan itu bersifat langsung (direct). Penekanan pada hubungan ini adalah pada hubungan langsung yang mengandung arti keterikatan secara pribadi. Hal inilah yang membedakannya dengan hubungan antara dua orang yang terjadi karena mereka bekerja pada kantor yang sama, misalnya hubungan mereka bersifat tidak langsung. Hubungan diadik dapat terbentuk baik karena sepenuhnya bersifat sukarela maupun karena adanya kewajiban tertentu. Selain itu, status sosial ekonomi dari individu-individu yang terlibat dapat seimbang maupun tidak seimbang (Respati, 1996: 16-17)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: